Ilmu itu cahaya yang terang yang menerangi dengannya

orang yang bahagia dan orang yang bodoh dalam kegelapan

Ilmu itu puncak kehidupan bagi para hamba sebagaimana

orang-orang yang bodoh itu mati karena kebodohan mereka

Pensyarah berkata:

Penulis menyebutkan dalam dua bait ini keutamaan ilmu dari dua sisi: Dari sisi bahwa ilmu itu cahaya yang terang dan dari sisi ilmu itu kehidupan bagi kalbu.

Dalam bait yang pertama beliau menyebutkan keutamaan ilmu dari sisi bahwa ia adalah cahaya. Allah Ta’ala befirman,
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَنْ نَّشَاء مِنْ عِبَادِنَا

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. Tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Asy-Syura: 52)

Maka ilmu itu cahaya bagi pemilik ilmu, dan lentera baginya yang dengannya dia berjalan dalam kegelapan. Oleh karena itu maka kedudukan seorang ‘alim di tengah manusia adalah kedudukan yang tinggi.

Al-Imam Al-Ajurry rahimahullah mneyebutkan dalm kitabnya “Akhlaq Al-’Ulama” (28) permisalan yang mengagumkan yang dia menjelaskan padanya kedudukan seorang ‘alim dalam masyarakatnya dan di antara manusia. Beliau berkata; “Apa persangkaan kalian -rahimakumullah- dengan suatu jalan yang padanya ada kerusakan yang banyak, dan manusia butuh melewatinya pada malam yang gelap gulita. Jika ada lampu maka itulah dan jika tidak maka mereka akan bingung. Maka Allah Ta’ala mendatangkan bagi mereka lampu-lampu yang menerangi mereka. Maka mereka melewatinya di atas keselamatan dan keamanan. Kemudiaan datanglah generasi yang mereka harus lewat padanya lalu mereka melewatinya. Dan ketika mereka sedang lewat tiba-tiba lampu-lampu itu mati, sehingga mereka dalam kegelapan. Maka bagaimana persangkaan kalian?!

Demikianlah ulama di tengah manusia. Kebanyakan manusia tidak mengetahui bagaimana menunaikan kewajiban dan bagaimana menjauhi perkara yang haram, dan tidak pula mengetahui bagaimana beribadah kepada Allah Ta’ala dalam semua perkara yang seorang hamba beribadah kepada Allah Ta’ala dengannya kecuali dengan adanya ulama. Jika ulama wafat maka bingunglah manusia, dan terkikislah ilmu dengan kepergian mereka, dan nampaklah kebodohan. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un. Sebuah musibah yang betapa besar atas kaum muslimin.”.

Oleh karenanya Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Kalaulah bukan karena adanya ulama niscaya manusia akan seperti binatang.”. Lihat “At-Tabshirah” karya Ibnul Jauzy (2/203).

Bagaimana manusia memahami agama, hukum-hukum, halal dan haram, sunnah dan bid’ah, serta iman dan kekufuran kalau Allah Ta’ala tidak mendatangkan ulama bagi mereka yang menerangkan bagi mereka agama Allah Ta’ala.

Ucapannya: “orang yang bahagia” padanya ada keterangan bahwa kebahagiaan itu terikat dengan ilmu, orang yang bahagia mendapatkan pencahayaan pada jalan mereka dengan cahaya ilmu dan sinarnya.

Ucapannya: “orang yang bodoh dalam kegelapan” yaitu orang bodoh yang tidak memiliki ilmu berjalan dalam gelapnya kebodohan dan kegulitaannya.

Dan berbeda antara orang yang berjalan dalam cahaya dan lentera dan orang yang berjalan dalam kegelapan dan kegulitaan. Telah diriwayatkan dalam “Al-Jami’ Li Akhlaq Ar-Rawy” (2/174) karya Al-Khathib dengan sanadnya kepada Malik rahimahullah bahwa dia berkata: “Sesungguhnya ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, hanya saja ilmu intu dengan cahaya yang Allah Ta’ala berikan pada kalbu.”.

Ketika Imam Asy-Syafi’i duduk di hadapan Malik dan membaca kepadanya, maka Malik kagum pada apa yang terlihat padanya berupa kesempurnaan daya tangkapnya, nyalanya kecerdasannya dan kesempurnaan pemahamannya, maka beliau berkata: “Sesungguhnya aku melihat Allah Ta’ala telah memberikan pada kalbumu cahaya maka janganlah engkau padamkan dengan kegelapan maksiat.”. Lihat “I’lam Al-Muwaqi’in” (4/284).

Dan diriwayatkan dalam “Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i” (70):

Aku mengeluhkan pada Waki’ jeleknya hafalanku

Maka dia membimbingku untuk meninggalkan maksiat

Dan dia mengabarkan padaku bahwa ilmu itu cahaya

Dan cahaya Allah tidak ditunjukkan bagi pelaku maksiat

Dan Ibnul Qayyim rahimahullah memiliki ucapan yang agung dalam bab ini dalam mukadimah “Ijma’ Al-Juyusy Al-Islamiyah” (7): “Sesungguhnya kalbu yang hidup yang mendaoat cahaya adalah yang memahami tentang Allah Ta’ala, tunduk dan pasrah untuk mengesakan-Nya, mengikuti perkara yang dengannya Rasul-Nya diutus. Dan kalbu yang mati yang gelap yang tidak memahami tentang Allah Ta’ala seta tidak tunduk kepada apa yang dengannya Rasulullah diutus. Oleh karena itu Allah Ta’ala menshifati jenis manusia ini bahwa mereka itu mati dan tidak hidup, dan bahwa mereka berada padaa kegelapan mereka tidak keluar darinya, oleh karenanya kegelapan menguasai mereka pada segala sisinya. Kalbu mereka gelap gulita sehingga melihat kebenaran berbentuk kebathilan, dan melihat kebathilan berbentuk kebenaran. Amalan mereka gelap, ucapan mereka pada kegulitaan, keadaan mereka semuanya penuh kegelapan, kubur mereka terpenuhi kegelapan, dan jika dibagikan cahaya kepada mereka dibawah jembatan untuk lewat di atasnya mereka tetap pada kegelapan.”.

Adapun bait yang kedua beliau menyebutkan padanya keutamaan ilmu dari sisi ilmu itu menghidupkan kalbu, yaitu bahwa kehidupan hakiki seorang hamba hanya terwujud dengan ilmu. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah oleh kalian Allah dan Rasul jika menyerukan kalian terhadap apa yang menghidupkan kalian.” (Al-Anfal: 24)

Maka ilmu itu adalah puncak kehidupan seorang hamba karena ia adalah kehidupan yang hakiki.

Allah Ta’ala berfirman,
أَوَ مَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ

“Apakah orang yang sebelumnya mati lalu Kami hidupkan ia.” (Al-An’am: 122)

Yaitu Kami menghidupkannya dengan ilmu, iman, petunjuk dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Oleh karenanya wahyu yang menghidupkan kalbu dipermisalkan dengan air yang menghidupkan tumbuhan di bumi. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman,
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ * اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Belumkah datang saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk kalbu mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang turun pada mereka, Dan jangaanlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya yang telah diturukan kitab kepadanya, kemudin berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu kalbu mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalh orang-orang yang fasik. Ketauilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi seseudah matinya. Sesungguhnya Kami menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran Kami supaya kalian memikirkan.” (Al-Hadid: 16-17)

Yaitu sebagaimana Allah Ta’ala menghidupkan bumi setelah matinya dengan air, maka Allah Ta’ala menghidupkan kalbu setelah matinya dengan wahyu. Ahlu ilmi itu hidup karena ilmu.

Acapan penulis: “orang-orang yang bodoh itu mati karena kebodohan mereka”. Di sini ada keterangan bahwa yang berpaling dari wahyu dan tidak menoleh padanya maka dia terhitung sebagai orang mati. Allah Ta’ala berfirman,
أَمْواتٌ غَيْرُ أَحْيَاء وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Berhala-berhala itu benda mati dan behala-berhala itu tidak mengetahui bila penyembah-penyembah mereka akan diangkitkan.” (An-Nahl: 21)

Dan Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا يَسْتَوِي الأَحْيَاء وَلا الأَمْوَاتُ

“Tidaklah sama (antara) orang-orang yang hidup (dengan) orang-orang yang mati.” (Fathir: 22)

Kehidupan yang mereka ada padanya bukanlah kehidupan hakiki, bahkan itu adalah kehidupan selayaknya hewan. Maka hewan itu makan, minum, bermain, datang, tidur, berdiri dan duduk.